• Blog
  • Contact
  • Home
  • Home 1
  • REDAKSI
  • Sample Page
  • Sample Page
Kamis, Juni 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
NEWSLETTER
MAKASSAR INVESTIGASI
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • ADVERTORIAL
    • RAGAM
    • Lifestyle
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
    • Investigasi
    • PERISTIWA
    • KRIMINAL
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • ADVERTORIAL
    • RAGAM
    • Lifestyle
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
    • Investigasi
    • PERISTIWA
    • KRIMINAL
No Result
View All Result
MAKASSAR INVESTIGASI
  • NASIONAL
  • PEMERINTAHAN
  • DAERAH
  • ADVERTORIAL
  • EKONOMI
  • POLITIK
  • PENDIDIKAN
  • HUKUM
Home PEMERINTAHAN

Muh Imran, Plt Ketua Umum PW KAMMI Sulawesi Selatan Menagih Arah KAMMI “Dari Gerakan Moral ke Kontribusi Bangsa”

Maret 30, 2026
in PEMERINTAHAN
481
VIEWS
FacebookTwitterWhatsapp

MAKASSAR INVESTIGASI.ID| Usia 28 tahun bagi sebuah organisasi mahasiswa bukan sekadar angka. Ia adalah fase ketika idealisme diuji oleh realitas, dan semangat perubahan ditantang oleh godaan kekuasaan. Bagi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), momentum ini seharusnya menjadi ruang hening untuk bertanya: ke mana arah gerakan ini dibawa, dan untuk siapa ia bekerja?

KAMMI lahir dari pergolakan sejarah reformasi 1998—sebuah era ketika mahasiswa menjadi motor perubahan, dan keberanian moral menjadi mata uang utama. Dalam konteks itu, KAMMI hadir bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai representasi kesadaran kolektif mahasiswa Muslim yang ingin melihat Indonesia lebih adil, lebih demokratis, dan lebih bermartabat.

Baca:

KAMMI Makassar Minta Kejaksaan Negeri Makassar Evaluasi Program MBG Sulsel

Bumerang Reformasi dan Krisis Kepercayaan Publik Oleh Muhammad Ilham Ketua KAMMI Makassar

LPKSM MASPEKINDO “Desak Pihak Terkait Tertibkan Penghuni Rusunawa Maros”

Namun, sejarah tidak pernah menjamin masa depan. Ia hanya menjadi pijakan—bukan jaminan arah.

Dalam perjalanan waktu, KAMMI mengusung dua identitas strategis: Gerakan Sosial Independen (GSI) dan Gerakan Politik Ekstra Parlementer (GPE). Dua konsep ini menegaskan posisi KAMMI sebagai kekuatan moral sekaligus aktor kritis di luar struktur kekuasaan formal. Independensi, dalam hal ini, bukan sekadar pilihan, tetapi syarat mutlak agar gerakan tetap memiliki daya kritis.

Di titik inilah persoalan mulai mengemuka.

Independensi yang dahulu menjadi fondasi, kini kerap terasa sebagai slogan yang kehilangan daya ikat. Dalam praktiknya, tidak sedikit keputusan dan sikap politik yang dipersepsikan berada dalam bayang-bayang kepentingan eksternal. Legitimasi sering dibungkus dalam istilah “dakwah”, “jamaah”, atau “syuroh”, tetapi substansinya kerap menyisakan tanda tanya: sejauh mana keputusan itu benar-benar lahir dari ruang deliberasi kader yang bebas?

Pertanyaan ini penting, bukan untuk mendelegitimasi, melainkan untuk menjaga kesehatan gerakan. Sebab sejarah menunjukkan, banyak organisasi besar justru melemah bukan karena tekanan dari luar, melainkan karena kehilangan kemandirian dari dalam.

Persoalan lain yang tak kalah mendesak adalah soal kaderisasi. Dalam teori organisasi modern, keberlanjutan gerakan sangat ditentukan oleh kualitas sistem kaderisasi. Ia harus terbuka, adil, dan berbasis kapasitas. Namun dalam praktik, kecenderungan eksklusivitas masih menjadi bayang-bayang yang sulit diabaikan.

Akses terhadap ruang kepemimpinan tidak selalu ditentukan oleh kompetensi, melainkan oleh kedekatan dengan lingkaran tertentu. Akibatnya, ruang dialektika yang seharusnya hidup justru menyempit. Kader yang kritis dan progresif sering kali berada di pinggiran, sementara budaya konformitas mendapatkan tempat yang lebih aman.

Jika situasi ini dibiarkan, maka KAMMI berisiko mengalami stagnasi intelektual. Padahal sebagai gerakan mahasiswa, kekuatan utamanya justru terletak pada kebebasan berpikir dan keberanian menguji gagasan.

Konsep syuroh yang menjadi salah satu mekanisme pengambilan keputusan juga perlu ditempatkan kembali pada ruhnya. Ia seharusnya menjadi ruang musyawarah yang hidup, bukan sekadar prosedur formal untuk mengesahkan keputusan yang telah disepakati oleh segelintir pihak. Tanpa keterbukaan, syuroh berpotensi kehilangan makna substantifnya.

Di tengah tantangan internal tersebut, konteks kebangsaan Indonesia hari ini menuntut lebih banyak dari sekadar retorika gerakan. Polarisasi sosial, menguatnya politik identitas, serta fragmentasi kepentingan membutuhkan kehadiran aktor-aktor muda yang mampu menjembatani perbedaan.

Di sinilah konsep Muslim Negarawan menemukan relevansinya. Ia bukan hanya identitas simbolik, tetapi ideal tentang kader yang mampu mengintegrasikan nilai keislaman dengan komitmen kebangsaan. Kader yang tidak terjebak dalam sekat kelompok, tetapi mampu merawat persatuan dalam keberagaman.

Indonesia dibangun di atas fondasi Bhinneka Tunggal Ika—sebuah kesadaran bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan. KAMMI, jika ingin tetap relevan, harus mampu membaca realitas ini dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari fragmentasi.

Refleksi 28 tahun ini, dengan demikian, tidak cukup berhenti pada romantisme sejarah atau seremoni organisasi. Ia harus menjadi titik balik. Momentum untuk menegaskan kembali independensi, memperbaiki sistem kaderisasi, dan membuka ruang dialektika yang sehat.

Masa depan KAMMI tidak ditentukan oleh seberapa kuat ia menjaga struktur, tetapi oleh seberapa berani ia merawat nilai. Bukan oleh seberapa solid ia dalam barisan, tetapi oleh seberapa jujur ia dalam mengoreksi diri.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang KAMMI adalah pertanyaan tentang kontribusi. Apakah ia akan tetap menjadi kekuatan moral yang relevan bagi bangsa, atau justru larut dalam dinamika internal yang menjauh dari realitas publik?

Usia 28 tahun memberi cukup waktu untuk belajar. Kini, tantangannya adalah memilih arah: bertahan sebagai simbol masa lalu, atau bertransformasi menjadi kekuatan masa depan.(**ML)

Previous Post

Cipayung Plus Jakarta Utara Apresiasi Capaian Strategis Polres Metro Jakut: Kedepankan Sinergitas, Prestasi, dan Kinerja Humanis

Next Post

Dana PIP SDN 54 Lanipa Diduga Tidak Tepat Sasaran, Sejumlah Orang Tua Murid Hingga Aktivis Angkat Bicara

Related Posts

KAMMI Makassar Minta Kejaksaan Negeri Makassar Evaluasi Program MBG Sulsel

KAMMI Makassar Minta Kejaksaan Negeri Makassar Evaluasi Program MBG Sulsel

by Makassar Investigasi
Juni 19, 2026
0

MAKASSAR INVESTIGASI.ID| Makassar, 18 Juni 2026 – KAMMI Daerah Makassar melakukan audiensi dengan Kejaksaan Negeri Makassar untuk menyampaikan aspirasi terkait...

Bumerang Reformasi dan Krisis Kepercayaan Publik Oleh Muhammad Ilham Ketua KAMMI Makassar

Bumerang Reformasi dan Krisis Kepercayaan Publik Oleh Muhammad Ilham Ketua KAMMI Makassar

by Makassar Investigasi
Juni 14, 2026
0

MAKASSAR INVESTIGASI.ID| Reformasi 1998 lahir sebagai tonggak penting demokrasi Indonesia. Ia membawa mandat besar: kebebasan berpendapat sebagai hak konstitusional setiap...

LPKSM MASPEKINDO “Desak Pihak Terkait Tertibkan Penghuni Rusunawa Maros”

LPKSM MASPEKINDO “Desak Pihak Terkait Tertibkan Penghuni Rusunawa Maros”

by Makassar Investigasi
Juni 2, 2026
0

MAKASSAKASSAR INVESTIGASI.ID| Maros - Menyikapi penyediaan Rusunawa di Kabupaten Maros yang diduga tidak tepat sasaran, dimana berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak)...

DPP LIRI : “Desak Pemkot Makassar Melalui Dinas Tata Ruang Agar Tindak Tegas Pelanggar Garis Sempadan Bangunan (GSB)”.

DPP LIRI : “Desak Pemkot Makassar Melalui Dinas Tata Ruang Agar Tindak Tegas Pelanggar Garis Sempadan Bangunan (GSB)”.

by Makassar Investigasi
Mei 30, 2026
0

Andi Sirajuddin  MAKASSAR INVESTIGASI.ID| Makassar - Permasalah jarak antara rumah atau gedung dan jalan di Makassar yang lebih dikenal dengan...

“Ketika Masjid Bicara Masa Depan Generasi” Opini Oleh : Sahrul Ariansyah

by Makassar Investigasi
Mei 30, 2026
0

MAKASSAR INVESTIGASI.ID| Makassar - Kultum subuh yang saya ikuti di Masjid Sultan Alauddin JL Prof.Abdurahman Basalamah memberikan banyak pelajaran dan...

Normalisasi Sungai Suli Tahap Pertama Selesai, Lurah Suli: Berkat Perjuangan Ibu Enceng Warga Bisa Tidur Nyenyak

by Makassar Investigasi
Mei 21, 2026
0

MAKASSAR INVESTIGASI.ID| Makassar, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Fraksi Demokrat, Ir. Fadriaty Asmaun, ST, MM, melaksanakan kegiatan pengawasan pelaksanaan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

edit post

Gerakan Solidaritas Digital Mengajak Seluruh Kampus di Indonesia Mengawal Proses Hukum Dugaan Pornografi Rektor UNM

8 bulan ago
edit post

KOALISI MAHASISWA, LSM DAN MASYARAKAT MAROS, PANGKEP MENCARI KEADILAN GANTI RUGI LAHAN PROYEK REL KERETA API MAKASSAR PARE-PARE DI BANGUN OLEH : DIREKTORAT JENDERAL PERKERETAAPIAN

5 tahun ago

Popular News

    Connect with us

    Makassar Investigasi adalah media online dengan tagline media terpercaya

    Category

    • ADVERTORIAL
    • DAERAH
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • Investigasi
    • KRIMINAL
    • Lifestyle
    • NASIONAL
    • PEMERINTAHAN
    • PENDIDIKAN
    • PERISTIWA
    • POLITIK
    • RAGAM
    • About
    • REDAKSI

    © 2023 Makassar Investigasi - Premium WordPress news & magazine theme by MI.

    No Result
    View All Result
    • Blog
    • Contact
    • Home
    • Home 1
    • REDAKSI
    • Sample Page
    • Sample Page

    © 2023 Makassar Investigasi - Premium WordPress news & magazine theme by MI.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In