MAKASSAR INVESTIGASI.ID| Luwu – Maraknya Persekongkolan, kembali terjadi hampir diseluruh Sekolah di Kabupaten Luwu, dimana berdasarkan hasil penelusuran kami menemukan bahwa sekolah dengan penerbit buku melalui oknum Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu diduga telah bersepakat untuk melakukan persekongkolan dengan modus pemberian fee sebagai tanda terima kasih.
Mengacu pada situasi di mana ada kerjasama atau kesepakatan terselubung antara sekolah dan penerbit buku, yang seringkali mengarah pada praktik-praktik yang tidak etis atau bahkan ilegal.
Menurut sumber informasi samaran baso (namanya enggan disebut) yang dihimpun awak media saat dikonfirmasi via telephone mengatakan, terkait pembelanjaan buku disekolah, kami diarahkan langsung oleh pak kabid disdik luwu untuk belanja di Penerbit PT. Airlangga Cabang Palopo.
“Jadi semua anggaran belanja buku didalam Dana BOS kami belanjakan di Penerbit PT. Airlangga Cabang Palopo sesuai arahan oknum Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu, sehingga Sales Penerbit PT. Airlangga langsung berkunjung ke sekolah dengan mempresentasikan produk sampai pada menawarkan FEE apabila kami berbelanja.”
Lanjut sumber, Dalam prensentasi sales PT. Airlangga menawarkan fee 30% hingga 35%,
“Semakin banyak kita anggarkan pembelanjaan buku dalam Dana Bos semakin banyak keuntungan yang didapatkan oknum Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu, bayangkan kalau anggaran belanja buku untuk SD dan SMP se-kabupaten luwu 30 – 50 examplar x 35% pasti jumlahnya milyaran rupiah,” Ungkap sumber enggan disebut namanya
Hal yang senada juga dikatakan oleh seorang kepala sekolah, bahwa saat dikonfirmasi, kami tidak bisa menolak arahan atau petunjuk dari Dinas Pendidikan Kab. Luwu untuk belanja buku ke penerbit PT. Erlangga.
“Kalau kami menolak petunjuk Dinas Pendidikan Kab. Luwu takutnya nanti kami di non jobkan atau dipindahkan ke sekolah terpencil dinda, jangan ki bocorkan identitas ku ndik.” Kata sumber dengan nada takut di mutasi oleh kadis pendidikan
Tempat terpisah, seorang oknum Disdik Kab. Luwu enggan disebut identitasnya saat dikonfirmasi via chat whatsapp mengatakan, kami tidak faham dalam hal itu adanya issue berkembang seperti itu.
“Yang jelas dalam setahun kami lihat sales penerbit 2x berkunjung diruangan pak kadis, minggu kemarin ada lagi pihak sales penerbit PT. Airlangga berkunjung diruangan pak kadis sepertinya untuk anggaran belanja buku tahun 2026 lagi dia mau bahas.” Ungkap sumber namanya enggan disebut
Selain itu, DPW PSMS SulSel melalui sekjend Mulyadi S.H saat dikonfirmasi via telephone cellular mengatakan, Persekongkolan tersebut selalu terjadi diseluruh sekolah, dimana pihak sekolah diduga dipaksa untuk membeli buku pelajaran atau buku pendamping dari penerbit tertentu, meskipun ada pilihan lain yang lebih terjangkau atau sesuai dengan kebutuhan siswa.
Praktik ini bisa melibatkan pemaksaan pembelian buku tertentu kepada sekolah dengan menggunakan DANA BOS, sehingga memanipulasi harga, atau praktik lainnya yang merugikan siswa, orang tua, dan negara.
“Perlu diingat bahwa praktik-praktik ini melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku, seperti Undang-Undang Sistem Perbukuan. Jika ada indikasi persekongkolan, pihak-pihak yang dirugikan dapat melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.” Imbuhnya
Diduga Oknum disdik luwu, Sekolah dan Penerbit mungkin memiliki MoU (Memorandum of Understanding) yang seharusnya bertujuan baik, namun disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
“sehingga terlibatnya oknum dalam dinas pendidikan atau lembaga terkait dalam praktik korupsi serta penyalahgunaan wewenang sebagai pengawasa terkait pengadaan buku, seperti suap, mark-up harga, atau penggelembungan jumlah buku yang diadakan.” Tegas Mulyadi S.H
Penerbit mungkin memberikan harga khusus atau diskon kepada sekolah, namun sekolah tidak meneruskan diskon tersebut kepada negara untuk dibuatkan LPJ, sehingga negara tetap harus membayar harga penuh atau bahkan lebih mahal melalui DANA BOS.
Kami menantang APH (Aparat Penegak Hukum) dan meminta segera mengusut tuntas sesuai undang-undang berlaku, dan memanggil semua terduga yang dimaksud.
Hingga berita ini terbit kami belum mendapatkan tanggapan Kepala Dinas Pendidikan dan Penerbit PT. Airlangga team awak media berupaya mencari kontak salesnya namun belum didapat.(**ML)








